THE ART OF LISTENING
Engkau mungkin merasa bisa bicara lancar dan mendengar
secara verbal, tetapi belum tentu untuk nonverbalmu. Engkau mungkin merasa
hebat cas-cis-cus dalam komunikasi
tetapi lawan bicaramu sesungguhnya bingung dengan yang kau sampaikan. Engkau
mungkin merasa cocok menjadi teman curhat bagi siapa saja, tetapi sayangnya
tidak menjadikan solusi apa-apa.
Ada sebuah buku ditanganku saat menyelesaikan catatan
ini. Buku yang cetakan pertamanya terbit di tahun 2005. Buku yang di awal
lembarnya terdapat kata-kata berikut, “Words are POWERFUL tools if you want to
be a LEADER of people, then you need to be a MASTER of words to be GREAT
leaders, we first had to be great LISTENER”. Sebuah buku yang mengajarkanku cara
mendengar yang baik dan benar. Sungguh sangat mendebarkan, membaca buku yang
yang berjudul “Mendengarkan Adalah EMAS” karya Prof. Ir. Samuel H.
Tirtamihardja, MSC. Anganku kemudian mengembara, mencari jawaban atas sebuah
pertanyaan apa hubungan mendengarkan dengan kemampuan komunikasi?.
Ada sebuah buku ditanganku saat menyelesaikan catatan
ini. Buku yang cetakan pertamanya terbit di tahun 2005. Buku yang di awal
lembarnya terdapat kata-kata berikut, “Words are POWERFUL tools if you want to
be a LEADER of people, then you need to be a MASTER of words to be GREAT
leaders, we first had to be great LISTENER”. Sebuah buku yang mengajarkanku cara
mendengar yang baik dan benar. Sungguh sangat mendebarkan, membaca buku yang
yang berjudul “Mendengarkan Adalah EMAS” karya Prof. Ir. Samuel H.
Tirtamihardja, MSC. Anganku kemudian mengembara, mencari jawaban atas sebuah
pertanyaan apa hubungan mendengarkan dengan kemampuan komunikasi?.
Pada kasus-kasus tertentu mungkin kau pernah mengalami
disaat berkomunikasi dengan seseorang, tetapi seseorang tersebut mengacuhkan
apa yang kau sampaikan. Percayalah, itu tentu sangat menyakitkan. Apalagi yang kau
sampaikan termasuk pembicaraan yang sangat penting.
MENDENGARKAN menjadi kunci unik yang akan
menghubungkan beberapa Pengertian Komunikasi di bawah ini:
2. Disseminate
(Membagikan)
3. Influence
(Mempengaruhi)
4. Transmit
(Mengirimkan)
5. Contact
(Menghubungkan)
6. Interaction
(Interaksi)
7. Dialogue (Dialog)
8. Share
(Membagikan)
9. To Make Common
(Menyamakan Persepsi)
10. Communicare (Menyamakan Pandangan)
Hal di atas mengajarkanku betapa pentingnya menjaga
Fleksibilitas dalam berkomunikasi, sekaligus mengingatkan bahwa Kata-kata
hanyalah seperangkat benda mati yang menunggu untuk dihidupkan. Dan seperti
prinsip “The Map is not The Territory" dalam NLP, tentu menghargai dengan baik
yang menjadi pemikiran orang lain itu jauh lebih penting dari sekedar memaksakan
kehendak yang kita pikirkan.
Faktanya: Banyak orang menjadi sakit hati,
tersinggung, tertekan, stress, hanya karena orang lain tidak menguasai teknik
mendengarkan dan berkomunikasi dengan baik.
Tuhan telah memberikan
manusia sebuah lidah, namun dua telinga, sehingga kita dapat mendengarkan orang
lain dua kali lipat daripada berbicara (Epictetus).
Mendengarkan seharusnya
menjadi kegiatan yang lebih tinggi dari aktivitas lain setelah bernafas.
Aku memulainya dengan
membuat lawan bicara senang, dengan tujuan dia merasa bebas berbicara. Sering
sekali hal ini disebut “Being open”
atau “Permissive environment”. Perasaan
senang itu muncul saat diriku membuat: sebuah perasaan senang, menaikkan harga
dirinya, membuat perasaan saling memiliki, menyepakati sebuah tujuan, dan
memberi keyakinan bahwa dirinya mempunyai kemampuan.
Kelima hal tersebut
ternyata mampu meningkatkan rasa percaya diri mereka, berikutnya mereka akan
membuka diri.
Aku berusaha menunjukkan
sikap mau mendengarkan apapun yang akan dikomunikasikannya. Berhenti berbicara
saat dia tiba-tiba memotong pembicaraan, adalah bentuk sikap positifku, dan dia
membacanya juga. Ada kalanya aku selipkan beberapa pertanyaan sebagai bentuk
apresiasi dan empati kepadanya. Dari beberapa yang aku lakukan itu, dirinya
semakin terbuka dalam bercerita.
Telah terjalin Rapport yang saling menguntungkan untuk
meningkatkan intensitas komunikasi.
Dimulai dari sinilah aku
menyadari bahwa MENDENGARKAN ternyata menjadi sangat penting dalam
berkomunikasi. Mempercayai bahwa kemampuan MENDENGARKAN akan membuat kemampuan KOMUNIKASI
meningkat pada level tertinggi. MENDENGARKAN menjadi syarat pertama menciptakan
KOMUNIKASI PERSUASIF.
Setelah
itu aku bertanya pada diriku:
1. Apakah aku pendengar yang baik?
2. Apakah aku selalu berprasangka?
3. Apakah aku senang menyimpulkan?
4. Apakah aku senang mendengarkan secara selektif?
5. Apakah aku berbicara berlebihan?
6. Apakah aku memiliki empati?
7. Apakah aku terlalu takut untuk mendengarkan?
1. Apakah aku pendengar yang baik?
2. Apakah aku selalu berprasangka?
3. Apakah aku senang menyimpulkan?
4. Apakah aku senang mendengarkan secara selektif?
5. Apakah aku berbicara berlebihan?
6. Apakah aku memiliki empati?
7. Apakah aku terlalu takut untuk mendengarkan?
Sekarang,
karena kita sepakat bahwa komunikasi adalah sebuah "Karya Seni" tentu di dalamnya terdapat
etika dan estetika (keindahan) yang dapat dibangun dari perjalanan kesadaran, dan
aku terus berusaha memahami proses komunikasi tersebut, dengan tujuan
meningkatkan kemampuan: MENDENGARKAN – MENANGGAPI – MENGARAHKAN.
Ini
sungguh pengalaman luar biasa.
Jika aku seorang pengajar, akan kudengarkan semua keluhan siswa saat proses belajar
Kemudian
kututup tulisan ini dengan mendengarkan desahan nafasmu, dan sebuah kalimat:
“Saat
berkomunikasi, Mendengarkan menjadi senjata terakhir setelah kita kehilangan
semua kata-kata”
SELAMAT
BELAJAR MENDENGARKAN !!!
0 komentar:
Post a Comment
Terima kasih untuk kesedian Anda menuliskan komentar pada kolom yang telah disediakan. Semoga Anda selalu menjadi lebih baik dan diberkahi dari sebelumnya. Amin