Gangguan Jiwa (Neurosa) di Dalam Diri Kita
Catatan
kali ini merupakan kutipan lama yang sengaja saya ambil dari beberapa bagian
skripsi. Maklum dech, skripsi ini pernah menjadi juara III Nasional dalam lomba
Penulisan Karya Ilmiah dalam rangka Bulan Bahasa tahun 2006 (Narsis dikit
ah...hihihiiiiii), jadi menurut saya layak diangkat di Blog pemberdayaan diri
ini. Langsung aja ya......
Apakah
pembaca percaya bahwa setiap individu dimungkinkan pernah mengalami gejala atau
bahkan sudah mengidap Gangguan Jiwa (Neurosa)?, dan orang-orang yang memiliki
kelainan mental oleh lingkungannya dianggap menderita gangguan jiwa.
Masyarakat
sering memberikan label-label khusus tanpa mengetahui arti dan pemaknaan yang
sesungguhnya. Begini penjelasannya:
1. Definisi
Gangguan
jiwa (neurosis) merupakan gangguan yang penderitanya masih menyadari atas
kondisi dirinya yang tengah terganggu. Ciri-ciri gangguan tersebut antara lain:
a. Wawasan yang tak lengkap mengenai sifat-sifat dan kesukarannya;
b. Mengalami konflik batin;
c. Menampakkan reaksi kecemasan;
d. Adanya kerusakan parsial pada aspek-aspek kepribadian.
Dari
definisi dan ciri-ciri di atas bahwa neurosa dapat muncul dalam beberapa
bentuk, diantaranya:
(1) Neurasthenia, yaitu gangguan yang ditandai
dengan kelelahan fisik dan mental yang kronis sekalipun tidak ditemukan
sebab-sebab fisik;
(2) Histeria, gangguan jiwa yang ditandai ketidakstabilan
emosi, represi, disasosiasi, dan sugestibilitas. Histeria ini bisa berwujud
kelumpuhan atau cramp sebagian anggota badan, hilang
kesanggupan bicara, hilang ingatan, kepribadian ganda, mengelana tidak
sadar (fugue), atau berjalan-jalan dalam keadaan tidur (somnabulism);
(3) Psychasthenia,
gangguan jiwa yang ditandai tidak mampunya diri tetap dalam keadaan hubungan
yang normal. Jenis ini antara lain bisa tampil dalam bentuk phobia (takut yang
tidak masuk akal), obsesi, dan kompulsi. Neurosis terjadi bisa disebabkan oleh
faktor-faktor organis fisis, faktor psikis dan struktur kepribadian, atau bisa
juga karena faktor milieu atau lingkungan. Yang jelas gangguan
mental tersebut dapat berpengaruh pada perasaan, pikiran, tingkah laku, dan
kesehatan tubuh seseorang yang mengalaminya (LINK TERKAIT).
Neurosa ditandai secara khas oleh ketidakmampuan si
individu untuk menunjukkan perhatian emosional terhadap orang lain atau
barang. Konflik yang terjadi pada neurosa ialah terutama antara individu dan
lingkungannya, walaupun tetap didominasi di dalam diri individu itu sendiri,
yaitu antara dorongan kekanak-kanakan yang tak disadari dan sikap
kedewasaannya.
Dalam pandangan psikoanalisis, gangguan
kejiwaan terjadi karena ada ketidakjelasan atau ketidakharmonisan antara ketiga
komponen kepribadian, id yang merupakan sisi biologis
kehidupan kejiwaan seseorang, ego sebagai sisi psikologis kehidupan manusia,
dan super ego sebagai sisi kehidupan sosial manusia. Ketidakjelasan ini terjadi
dalam bentuk adanya peristiwa yang tidak menyenangkan, tetapi tidak pantas
dikemukakan atau direpresikan ke alam bawah sadar (unconscious). Akibatnya adalah bahwa masalah itu tetap ada dan
berkembang, sehingga melahirkan suatu pola pikiran dan tingkah laku yang tidak
wajar ketika ia menghadapi orang lain, masalah, dan peristiwa kehidupan lainnya
(terutama pada saat orang telah menjadi dewasa).
Dalam konsep Freud, psikoanalisis
telah berkembang sebagai teori, asesmen klinis (psikodiagnostika), dan
psikoterapi. Bahkan ia meninggalkan istilah psikoterapi dan menggantinya dengan
psikoanalisis saja. Wiramihardja menjelaskan dalam bukunya Pengantar Psikologi
Klinis (2004:89), bahwa dasar utama psikoanalis adalah ketidaksadaran.
Seseorang dikatakan terganggu jiwanya disebabkan karena terdapat represi atas
pengalaman atau ingatan yang mencemaskan ke alam tak sadar.
2. Bentuk
neurosa dalam kehidupan sehari-hari:
a. Obsesi Mania. Gangguan jiwa (neurosa) yang
dikuasai oleh suatu pikiran yang tidak bisa dihindarinya. Ciri-cirinya antara
lain tingkah laku tidak terkontrol dengan perbuatan motorik yang berlebihan
dilanjutkan dengan fase hiper aktif dari psikosa manis-depresif.
Dari hasil perbuatannya tersebut penderita tidak menginginkan orang lain
mengetahui bahwa dirinya telah melakukan aktivitas-aktivitas tertentu.
b. Compulsive Orderlinese. Bentuk
tindakan yang dilakukan adalah anti social compulsive, sebuah tindakan yang bertentangan dengan norma
dan nilai-nilai yang berlaku tetapi aktivitas tersebut dilakukan karena
keterpaksaan kebutuhan, misalnya: Seseorang menjambret karena terpaksa dengan
alasan tuntutan ekonomi (compulsive kleptomania).
c. Paranoid. Individu yang dalam pikirannya selalu mencoba
menerka-nerka kejadian yang belum tentu kebenarannya. Tipe individu seperti ini
selalu dikusai oleh kekhawatiran-kekhawatiran negatif.
d. Histeria yang berhubungan
langsung pada mental individu.
Dampak dari itu semua adalah pecahnya kepribadian (split personality) individu menjadi dua kepribadian (double
personality). Dalam kehidupan
sehari-hari ini serupa dengan fenomena kerasukan.
e. Repetitive Compulsive. Gangguan jiwa yang muncul dengan gejala
paksaan karena melakukan pekerjaan secara berulang-ulang. Bentuknya dapat berupa depresi seorang
karyawan yang melakukan kegiatan yang itu-itu saja setiap harinya, stress, dan
psikosomatis (darah tinggi, dll).
f. Phobia. Gangguan jiwa ini berbentuk ketakutan yang tidak masuk akal.
3. Secara
etimologis, sesuai dengan kamus psikologi:
- Gangguan
Jiwa : Neurosis/Neurosa
- Penyakit
Jiwa : Psikosis/Psikosa
Sekarang
kita dapat membedakan bukan?. Mungkin kita pernah atau masih mengalami beberapa
jenis gangguan jiwa di atas. Yang pasti Gangguan Jiwa berbeda dengan Penyakit
Jiwa seperti yang selama ini kita yakini.
-SALAM
PEMBERDAYAAN-
Trance
Club Production (TCP)
@2013
(1) Neurasthenia, yaitu gangguan yang ditandai dengan kelelahan fisik dan mental yang kronis sekalipun tidak ditemukan sebab-sebab fisik;
(2) Histeria, gangguan jiwa yang ditandai ketidakstabilan emosi, represi, disasosiasi, dan sugestibilitas. Histeria ini bisa berwujud kelumpuhan atau cramp sebagian anggota badan, hilang kesanggupan bicara, hilang ingatan, kepribadian ganda, mengelana tidak sadar (fugue), atau berjalan-jalan dalam keadaan tidur (somnabulism);
(3) Psychasthenia, gangguan jiwa yang ditandai tidak mampunya diri tetap dalam keadaan hubungan yang normal. Jenis ini antara lain bisa tampil dalam bentuk phobia (takut yang tidak masuk akal), obsesi, dan kompulsi. Neurosis terjadi bisa disebabkan oleh faktor-faktor organis fisis, faktor psikis dan struktur kepribadian, atau bisa juga karena faktor milieu atau lingkungan. Yang jelas gangguan mental tersebut dapat berpengaruh pada perasaan, pikiran, tingkah laku, dan kesehatan tubuh seseorang yang mengalaminya (LINK TERKAIT).
Neurosa ditandai secara khas oleh ketidakmampuan si
individu untuk menunjukkan perhatian emosional terhadap orang lain atau
barang. Konflik yang terjadi pada neurosa ialah terutama antara individu dan
lingkungannya, walaupun tetap didominasi di dalam diri individu itu sendiri,
yaitu antara dorongan kekanak-kanakan yang tak disadari dan sikap
kedewasaannya.
0 komentar:
Post a Comment
Terima kasih untuk kesedian Anda menuliskan komentar pada kolom yang telah disediakan. Semoga Anda selalu menjadi lebih baik dan diberkahi dari sebelumnya. Amin